Pengalaman 1 Bulan Pakai Hermes Agent

Awalnya saya coba-coba, loh kok enak. Akhirnya saya ketagihan.

Sebelum pakai Hermes Agent ini awal kejadiannya

Semua gara-gara Mas Ayas yang kirim .md file buat dieksplor, saya disuruh bikin 2nd brain. Kebetulan dapat 1,5 tahun Google AI Pro gara-gara verification email student (thanks yupien). Jadi saya pake antigravity akhirnya untuk eksekusi .md file-nya.

jadilah first gtihub repository, setelah 8 tahun punya akun github

Setelah itu tiba tiba entah saya lupa dapat info darimana datangnya, saya coba hermes agent. saya coba hermes agent bukan di lokal. tapi iseng coba PaaS aka platform as services gethermes.cloud (punya mas Ahmad Rosid, nyoba untuk satu bulan, tapi saya juga install di local beberapa hari kemudian)

Hari Pertama Mencoba Hermes Agent

Hari pertama yang saya lakukan adalah saya bingung, hahaha. Tapi bingung adalah tanda kita berpikir, tapi anehnya waktu itu model pertama yang saya add ke Hermes Agent adalah Kimi.

Hipotesis awal saya, model cina lebih murah. Betul memang, dibanding Anthropic yang mahalnya pol. Ternyata Kimi K3 terlalu overkill waktu itu. $10 + $5 dari Kimi sudah habis begitu saja dalam 10 hari.

Tampilan Hermes Agent Web Dashboard

Akhirnya saya biar ga bingung amat, saya bukalah youtube dan apa aja yang bisa dikerjain sama Hermes Agent. Jujur saya FOMO. Gak terlalu banyak riset, langsung aja nyebur haahahha. cukup menyesal.

lagi browsing nyari ni apaan dah hermes agent.

Setelah nontonin beberapa video akhirnya udah mulai ngerti ini Hermes Agent “buat apa sih?” Intinya mah ya otomasiin workflow tanpa harus nge-set terlalu banyak. Ini barang baru akan berguna kalo kita udah define workflow-nya.

beda dengan n8n yang pernah saya coba, ini ya lebih enak. Tinggal typing/cari skill yang sesuai terus bakal dikerjain sama hermes-nya. Kerennya lagi ya dia ada memory (yang bisa nginget context) plus bisa belajar sendiri dari kesalahan dia.

bedanya sama openclaw? ga tau… saya ngga pake openclaw. tapi ini kata warga salah satu discord ecommurz

Apa yang pertama kali saya buat?

Hal pertama kali yang saya buat adalah improvement dari 2nd brain yang ada. Awalnya saya bikin 2nd brain dengan alur seperti ini:

telegram –> ngasih input ke notion

sudah gitu doang, terlalu simpel dan formatnya ya udah gitu doang pula seperti ini

Akhirnya? saya ubah dengan lebih kompleks sesuai dengan kebutuhan.

  1. Pakai LLM wiki structure ala Karpathy
  2. sync menggunakan obisidian dan github
  3. ingest semua notes yang dulu sudah ada dari google keep, onenote, dan catatan gdocs
  4. input dari telegram dan discord
  5. adding automation link ingestion
Jadilah second brain jadi-jadian. wkwkwk.

Ini buat apalagi dah yak?

Saya nyemplung pake Hermes agent ini memang ngga sengaja, makanya saya pun masih ngawang untuk pake ini. Nah, selanjutnya apa sih yang bisa saya lakuin? Masuk minggu kedua, saya mulai eksperimen untuk otomasi workflow

Otomasi Semantic Internal Linker

Akhirnya mulai mencoba untuk otomasi salah satu kerjaan paling menyebalkan di SEO. Bikin internal linking.

baca disini

Adanya tools ini nge-cut pekerjaan yang tadinya mingguan jadi cukup sehari aja, bahkan beberapa jam aja cukup sih ini. Tentu saja jadi lebih backed by numbers karena menghitung cosine-similarity score daripada cuma ngawang aja.

Buat kalian yang tertarik, bisa dicoba di github semantic linker punya mfrauf.

Pindah dari gethermes.cloud ke VPS

Akhirnya pertengahan Agustus saya coba migrasi dari PaaS gethermes.cloud ke VPS sendiri. Kali ini saya nyoba VPS punya sumopod.

Ini jadi titik buat belajar pake VPS lol. Sejak dulu saya cuman mentok untuk pakai shared-hosting untuk kebutuhan WP. Mencoba migrasi ini jadi nambah skill teknis lah. Namanya juga saya basicnya orang marketing ya, bukan literal tech WKWKWKWK.

Mulai Pakai Meta Ads Kit

Setelah mulai punya beberapa workflow, saya juga mulai pakai Meta Ads Kit untuk membantu kerjaan iklan Meta. Jadi bukan cuma minta Hermes menjawab pertanyaan, tapi saya kasih akses ke workflow yang bisa membaca data iklan dan merangkum hal-hal penting seperti pacing spend, campaign yang sedang berjalan, performa 7 hari, iklan yang mulai boros, pemenang, dan tanda-tanda creative fatigue.

Alur pakainya cukup sederhana. Hermes menjalankan report read-only dulu, lalu membantu membaca polanya. Kalau ada iklan yang perlu di-pause, budget yang perlu diubah, atau campaign yang perlu diutak-atik, sistem berhenti di rekomendasi dan saya yang memberi approval. Jadi agent tidak boleh asal mengubah iklan atau menghabiskan budget.

Kit yang saya pakai adalah hermes-meta-ads-kit di GitHub. Di dalamnya ada workflow untuk daily check, mencari ads yang bleeding, menemukan winners, mendeteksi fatigue, membuat variasi copy, dan menyiapkan upload ke Meta. Buat saya, bagian paling berguna bukan sekadar otomatisasi klik, tapi mengubah pekerjaan rutin di Ads Manager menjadi report singkat yang bisa langsung dipakai untuk mengambil keputusan.

Setup Multi-agent

Awalnya, saya cuma pakai satu profil agent default buat ngerjain semua hal. Mau riset SEO, nulis copy, bikin logic script, sampai benerin config VPS, semuanya disuruh ke satu bot yang sama. Hasilnya? Kurang maksimal, prompt-nya jadi kepanjangan, token boros, dan kadang agent-nya bingung sendiri karena kebanyakan konteks yang campur aduk.

Dari situ saya mulai kepikiran: “Kenapa ngga dibikin spesialis aja kayak di tim kantor beneran?”

Akhirnya di Hermes Agent saya buat beberapa profile yang jadi “AI Agent” dengan masing-masing tugas, skill, dan system prompt khusus:

  • product_manager: Buat nyusun PRD (Product Requirement Document), breakdown user stories, dan nentuin arsitektur fitur.
  • product_marketer & content_marketer: Khusus nulis landing page copy, value proposition, artikel blog, dan messaging produk.
  • seo_agent: Riset keyword, clustering topik, pemetaan intent URL, sampai semantic internal linking.
  • uiux_designer: Bikin mockup layout, wireframe, komponen UI, dan nentuin hierarchy visual.
  • advertiser: Analisa performa & copy iklan kompetitor di Meta Ads Library buat nemu angle baru.
  • security_tester: Nge-pentest celah keamanan, review vulnerability code, dan mastiin zero-trust security sebelum deploy.

Automasi Harian & Upgrade Second Brain (RAG Lokal)

Masuk akhir Agustus, Hermes gak cuma nunggu perintah manual, tapi udah punya jadwal kerja rutin sendiri via cron job:

  1. Morning Briefing (07:00 WIB): Tiap pagi otomatis ngirim rangkuman cuaca hari ini, agenda Google Calendar, dan list kartu kerjaan Trello langsung ke chat Telegram saya.
  2. IHSG Frequency Scanner (Malam): Tiap malam nge-scan saham-saham di Bursa Efek Indonesia menggunakan kalkulasi StochRSI dan AHP Frequency Analyzer untuk nemu anomali volume akumulasi.
  3. Auto Journaling & Sync Obsidian: Daily log dan weekly retro otomatis tercatat rapi dan tersinkronisasi ke Obsidian vault lokal saya di /opt/data/wiki.

Bukan cuma itu, Second Brain yang tadinya simpel saya upgrade jadi Second Brain v2 berbasis RAG (Retrieval-Augmented Generation).

Sistem RAG ini jalan lokal di VPS pakai Chroma DB + embedding MiniLM + BM25 search. Tiap jam 03:00 subuh, sistem bakal re-index seluruh catatan dan dokumen baru. Sekarang kalau saya butuh ide lama atau referensi meeting bulan lalu, cukup ketik ?sb [topik] di chat Telegram, dan si agent langsung ngejawabin lengkap dengan sitasi file aslinya. Praktis banget.

Mulai Bangun Produk Beneran di Production

Memasuki akhir Agustus sampai September 2026, eksperimen ini mulai bergeser dari sekadar “coba-coba otomasi” menjadi pembangunan produk digital beneran.

Beberapa produk yang berhasil dibangun dan jalan live di server:

  • Ads Watcher Web: Tool intelligence untuk scraping dan monitoring iklan Meta Ads kompetitor secara real-time. Dibangun pakai backend FastAPI, database PostgreSQL (psycopg_pool), Google OAuth login, dan reverse proxy Caddy di VPS.
  • Indexing Suite (app.fathirauf.com): Tool untuk monitoring indexing status halaman web langsung dari Google Search Console.
  • Tuntasin (tuntasin.my.id): Layanan asisten pengingat cerdas berbasis WhatsApp & Telegram. Fiturnya lengkap mulai dari recurring reminder harian/mingguan, smart insight, integrasi Google Calendar (tinggal ketik format #cal), sampai integrasi sistem pembayaran otomatis via Mayar.

Kanban Trello to Hermes

Awalnya karena mau coba kanban punya Hermes, tapi kok rasanya pusing wkwkwk. User experiencenya jelek, terlalu rumit. Akhirnya bikin sejenis bridge dari kanban trello to kanban hermes.

Cukup dengan ngisi task dan agent mana yang mau disuruh, nanti hermes akan ngebaca dari trello dan mindahin ke kanban hermes, setelah itu akan mecah task sesuai dengan agent yang disuruh kerja

Bisa dilihat lebih lengkap di kanban trello hermes bridge github.

Refleksi 1 Bulan: Apa yang Saya Pelajari?

Ngga berasa udah sebulan lebih nyemplung di dunia AI Agent. Dari orang marketing yang tadinya 8 tahun punya akun GitHub cuma jadi pajangan, sekarang bisa punya ekosistem multi-agent di VPS yang jalan 24/7.

Ada beberapa poin penting yang bisa saya petik:

  • AI Agent itu Sistem Otomasi: Chatbot biasa cuma pasif nunggu ditanya. Tapi Agent punya “tangan” (bisa eksekusi terminal & tool), punya “mata” (bisa browsing & extract data), dan punya “memori” jangka panjang. Ini mirip rasanya pas pertama kali pake GPT-3.5, waktu itu “wah… bisa bikin PRD cepet nih”, sekarang rasanya “ini kerjaan bisa dikerjain AI agent aja, yang penting rajin ngasih kerjaan”
  • Karena AI Agent itu sistem otomasi, paham workflow adalah wajib: Karena kalo dari sini ga paham apa yang mau diotomasiin, ya.. yaudah apa juga yang mau dikerjain dan AI Agent bisa aja ngablu/halu.
  • Cost Optimization itu Mutlak: Jangan males pake tools penghemat token dan routing agent sesuai dengan kapasitasnya. Hemat biaya sampai 80%+ itu nyata kalau kita cerdas bagi tugas antara model reasoning mahal dengan model cepat/gratisan untuk tugas harian.

Buat teman-teman yang masih ragu atau cuma pakai AI buat generate text biasa di chat interface, cobain deh mulai explore workflow agentic. Dijamin nagih sih wkwkwk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *